Sabtu, Desember 3, 2022
BerandaFiqihZAKAT FITRI

ZAKAT FITRI

ZAKAT FITRI 01

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Kita lanjutkan pelajaran kita dan kita masuk pada permasalahan tentang zakāt al fithr (الفطر) atau zakāt Fitri.

Apabila Romadhon telah selesai (dengan tenggelamnya matahari) kemudian masuk pada ‘Iedul Fithr maka wajib bagi setiap muslim untuk mengeluarkan satu kadar tertentu dari makanan pokoknya yang disebut sebagai zakāt fitroh (zakāt badan).

Kenapa disebut zakāt badan?
Karena zakāt ini tidak terkait dengan harta seseorang tetapi justru terkait dengan dzat seseorang (badan seseorang).
Oleh karena itu seseorang mungkin memiliki atau tidak memiliki nishob, dia seorang faqīr, tapi dia tetap wajib untuk menunaikan zakāt Fitri manakala telah sesuai dengan syaratnya.
Jadi tidak disyaratkan bahwasanya dia adalah orang yang memiliki nishob dalam harta, tapi selama dia seorang muslim dan memiliki syarat-syarat yang nanti akan disebutkan, maka dia wajib untuk menunaikan zakāt fitroh/Fitri.

Berkata penulis rohimahulloh :

(وتجب زكاة الفطر بثلاثة أشياء: الإسلام وبغروب الشمس من آخر يوم من شهر رمضان ووجود الفضل عن قوته وقوت عياله في ذلك اليوم))

“Wajib zakat fitroh karena tiga hal, Islam, terbenamnya matahari pada hari terakhir bulan Romadhon, adanya kelebihan dari makanan keluarga untuk hari raya itu.”

وتجب زكاة الفطر

“Bahwasanya wajib zakāt fitri.”

Pembahasan pertama bahwasanya hukum dari zakāt fitroh adalah wajib, berdasarkan keumuman dari Al Kitāb (Al Qur’ān) maupun dari hadīts Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, begitu juga ijmā’ para ulamā.
Diantaranya Alloh Ta’āla berfirman :
قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang berzakāt.”
(QS A’la: 14)

Di dalam sunnah di antaranya adalah hadīts dari Ibnu Abbās rodhiyallohu ta’āla ‘anhumā, beliau berkata:

فَرَضَ رَسُوْلُ الله زَكَاةَ الفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِّلْمَسَاكِيْنِ فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُوْلَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ – أَيْ صَلاَةِ العِيْدِ- فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

“Rosūlulloh shollallohu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakāt fitroh/Fitri sebagai pembersih bagi orang-orang yang berpuasa dibulan Romadhon dari perbuatan yang lalai maupun berbuatan yang rofāts (buruk) dan sebagai makanan bagi orang-orang yang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum sholāt ‘Ied maka dia terhitung sebagai zakāt fitroh yang diterima, dan barang siapa yang menunaikan setelah sholāt (Sholat id) maka dia terhitung sebagai sedaqoh dari sedaqoh biasa lainnya (tidak ada nilai zakāt fitroh).”

(Hadīts riwayat Abū Dāwūd, ibnu Majah, Al Hakīm dan dishohīhkan oleh beliau)

Kemudian ijmā’ para ulamā (para ulamā telah sepakat sebagaimana disebutkan oleh Imām Ibnu Mundzir :
وأجمعوا على أن صدقة الفطر تجب على المرء
“Bahwasanya sedeqoh / zakāt fitri itu wajib.”

Dan ini ijmā’ (bahwa merupakan kewajiban bagi setiap insan).

وأجمع علي أنّ صدقة الفطر واجب……….
“Sedeqoh fitroh atau zakāt fitroh/Fitri adalah wajib.”

Berkata penulis rohimahulloh :
بثلاثة أشياء
“Dengan tiga syarat.”

Pembahasan berikutnya tentang syaratnya, kata beliau, “Dengan tiga syarat,” (walaupun di sana ada syarat yang tidak disebutkan oleh penulis yaitu al hurriyyah (الحرية).

3 (tiga) syarat tersebut adalah :
1. Islām ( الإسلام)
Orang-orang yang bukan Islām tidak diwajibkan untuk menunaikan zakāt. Mereka berdosa karena tidak berzakāt walaupun mereka kāfir. Mereka tetap menanggung dosanya akan tetapi tidak diwajibkan kepada mereka (artinya tidak diminta) zakāt dari mereka, sehingga syarat pertama adalah Islām.

2. Sudah tenggelam matahari (terbenam matahari dibulan Romadhon) dan masuk pada bulan Syawwāl (وبغروب الشمس من آخر يوم من شهر رمضان).
Akhir yaum, karena pergantian hari ditanggalan hijriyyah atau qomariyyah adalah setelah tenggelamnya matahari (sudah masuk hari berikutnya).
Jadi tanggal 30 Romadhon akhirnya adalah pada tenggelamnya matahari di hari tersebut dan mulai masuk tanggal 01 Syawwāl adalah setelah Maghrib.

Seorang yang dia mendapatkan dua waktu bulan Romadhon dan bukan Syawwāl maka dia wajib untuk menunaikan zakāt fitroh.
Seorang yang meninggal sebelum bulan Syawwāl artinya dia meninggal sebelum selesai bulan Romadhon maka tidak wajib zakāt fitroh.
Seorang yang lahir dibulan Syawwāl dan dia tidak menemukan waktu Romadhon maka dia tidak wajib untuk menunaikan zakāt fitrah.
Di antara kewajibannya adalah tatkala dia menemui waktu ini.
Dan di sana ada pembahasan dari para ulamā kapan waktu yang baik untuk menunaikan zakāt fitri (in syā Allāh nanti kita akan bahas).

3. Orang tersebut, dia memiliki makanan pokok yang mencukupi untuk dirinya dan mencukupi untuk keluarganya pada hari tersebut ( وجود الفضل عن قوته وقوت عياله في ذلك اليوم).

Jadi pada hari tersebut di mulai pada waktu Maghrib (masuk tanggal 01 Syawwāl) dan dilihat, apabila dia memiliki makanan yang cukup pada hari itu maka wajib bagi dia untuk menzakātkan kelebihan dari makanan yang dia miliki.
Mungkin seseorang pada malam tersebut tidak memiliki makanan cukup, sehingga malam tersebut dia mendapatkan zakāt dari orang lain. Tatkala dia mendapatkan makanan yang cukup walaupun sumbernya dari zakāt maka pada saat itu dia harus menunaikan zakāt (dari apa yang dia dapatkan).

Ini adalah tiga syarat dan disana ada syarat yang ke-4 yaitu Al Hurriyyah (seorang yang merdeka).
Seorang budak tidak diwajibkan zakāt karena kewajiban itu adalah bagi tuannya (bagi pemiliknya).

Demikian yang bisa disampaikan pada halaqah ini dan kita akan lanjutkan pada pertemuan berikutnya.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Artikulli paraprakZAKĀT PERDAGANGAN BAGIAN 02
Artikulli tjetërZAKAT FITRI
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments