Sabtu, Desember 3, 2022
BerandaFiqihZAKAT FITRI BAGIAN 04 & 8 ASNAF

ZAKAT FITRI BAGIAN 04 & 8 ASNAF

ZAKAT FITRI BAGIAN 04 & 8 ASNAF

بسم اللّه الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para shohābat yang dirahmati oleh Alloh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita lanjutkan beberapa faedah atau permasalahan di dalam masalah zakāt secara ringkas yang mungkin pernah disebutkan tentang maksud dari zakāt fithroh.

Sudah disebutkan di dalam hadīts bahwasanya maksud disyari’atkan zakāt fithroh adalah sebagai penebus kelalaian yang dilakukan oleh seorang yang berpuasa.

Dalam hadīts:

طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

“Sebagai pembersih dari orang-orang yang berpuasa dari perbuatan yang lalai dan perbuatan yang buruk.”

Ini adalah sebab disyari’atkannya zakāt fithroh.

Kemudian kadarnya, sebagaimana disebutkan, bahwasanya kadarnya adalah satu sho’ berdasarkan hadīts dari Ibnu Umar, beliau berkata:

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ من رمصان صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ

“Bahwasanya Rosūlulloh  shollallohu ‘alaihi wa sallam, beliau mewajibkan untuk seorang muslim setelah selesai bulan Romadhon untuk menunaikan zakāt fithroh, satu sho’ dari kurma atau sho’ dari sya’īr.”

  • Kemudian faedah berikutnya, kapan dikeluarkan zakāt fithroh?

Waktu yang wajib adalah waktu manakala tenggelam atau terbenamnya matahari di akhir hari bulan Ramadhān dan masuk waktu Syawwāl (ini waktu-waktu wajib).

  • Bolehkah dibayarkan sebelumnya?

Perkataan Ibnu ‘Umar rodhiyallohu ta’āla ‘anhumā di dalamnya.

وَكَانُوْا يُعْطُوْنَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ

“Bahwasanya mereka (para shohābat rodhiyallohu ta’āla ‘anhum) mereka mengeluarkan (membayarkan zakātnya), satu hari atau dua hari sebelumnya.”

Ini menunjukkan bolehnya menunaikan zakāt fithri sebelum masuk hari ‘Iedul Fithr.

  • Kemudian faedah berikutnya, siapa ahlu zakātul fitri ?

Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin:

Bahwasanya di sana ada dua pendapat dari kalangan ahlul ‘ilmi, yaitu :

⑴ Pendapat pertama  Zakāt fithroh sebagaimana zakāt yang lainnya, diserahkan (diberikan) kepada para mustahik zakāt (8 golongan) sampai termasuk al muallafatu qulūbuhum (orang-orang yang dilembutkan hatinya), al ghorimīn (Orang yang terlilit hutang).

⑵ Pendapat kedua  Zakāt fithroh dikeluarkan kepada fuqoro dan masākīn saja.

Dan ini beliau rojīhkan (beliau lebih memilih pendapat yang kedua ini).

  • Kemudian bolehkah kita membayar zakāt dengan nilainya saja?

Jadi seorang misalnya ingin mengeluarkan zakāt. Dan dia berikan zakāt tersebut kepada orang-orang yang membutuhkan dari kalangan fuqoro berupa uang (misalnya), apakah boleh?

⇒ Maka kebanyakan para ulamā, mereka tidak memperbolehkan dan mengatakan tidak sah zakāt tersebut.

Berikut perkataan Ibnu Qudāmah rohimahulloh :

ولا تجزئ القيمة؛ لأنه عدول عن المنصوص

“Tidak sah nilai harga apabila kita berikan, karena itu keluar dari nash (yang diterapkan di dalam hadīts-hadīts tentang zakāt).”

⇒ Zakāt, semuanya adalah mengeluarkan dari makanan pokok.

Begitu juga perkataan Syaikh Bin Baz rohimahulloh :

ولا يجوز إخراج القيمة عند جمهور أهل العلم وهو أصح دليلاً ، بل الواجب إخراجها من الطعام ، كما فعله النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه رضي الله عنهم

“Tidak diperbolehkan untuk mengeluarkan harganya nilai uangnya berdasarkan pendapat jumhur ulamā dan telah shahīh dalīlnya bahkan yang wajib mengeluarkan dari makanan pokok, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan para shahābat (radhiyallāhu Ta’āla ‘anhum).”

Beliau juga mengatakan :

زكاة الفطر عبادة بإجماع المسلمين ، والعبادات الأصل فيها التوقيف ، فلا يجوز لأحد أن يتعبد بأي عبادة إلا بما ثبت عن المشرع الحكيم عليه صلوات الله وسلامه

“Zakāt fithroh adalah salah satu bentuk ibadah dengan dasar ijmā’ kaum muslimin. Hukum asal ibadah adalah harus sesuai dengan tuntunan Rosūlulloh shollallohu ‘alayii wa sallam, maka tidak boleh seorang itu beribadah dengan ibadah apapun kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh sang pemberi syari’at yaitu Alloh Subhānahu wa Ta’āla melalui Rosūlulloh  shollallohu ‘alaihi wa sallam di dalam membuat syari’at berupa ibadah.”

Karena di sana ada perkara-perkara selain ibadah seperti muamalah antara seorang kepada orang lain.

Adapun ibadah asalnya adalah tauqif, artinya berhenti sampai ada dalīl yang menunjukkan bahwanya hal tersebut boleh atau tidak boleh.

Demikian yang bisa disampaikan halaqah ini dan fatwa-fatwa tentang hal tersebut dan kita akan lanjutkan pada pertemuan berikutnya.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Artikulli paraprakZAKAT FITRI
Artikulli tjetërZAKAT FITRI BAGIAN 05
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments