Sabtu, Desember 3, 2022
BerandaFiqihZAKAT FITRI

ZAKAT FITRI

ZAKAT FITRI 02

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para shohābat yang diro wahmati oleh Alloh Subhānahu wa Ta’āla.
Pada pertemuan kita kali ini, kita akan membahas tentang zakāt fitri (masih meneruskan yang kemarin).
Dan kemarin sudah kita bahas tentang hukum zakāt (yaitu) wajib. Dan syarat-syarat wajibnya zakāt yaitu :
⑴ Seorang Muslim atau Islām.
⑵ Dia mendapati dua waktu (yaitu) waktu Romadhon dan waktu Syawwāl, ditandai dengan masuknya atau وبغروب الشمس , tenggelamnya matahari, di akhir hari di bulan Romadhon.
⑶ Memiliki makanan pokok yang mencukupi untuk dirinya dan mencukupi untuk keluarganya pada hari tersebut (istri, anak-anaknya dan yang wajib dia nafkahi).

Dan kita masuk pada pembahasan kita yang ketiga yaitu siapa yang wajib dizakāti.

Berkata penulis rohimahulloh :

ويزكي عن نفسه وعمن تلزمه نفقته من المسلمين

“Dan dia wajib menzakāti dirinya.”

Sebagaimana tadi sudah disebutkan di awal bahwa zakāt fitroh terkait dengan zakāt badan, tidak terkait dengan harta seseorang, sehingga tidak ada kaitannya dengan nishob.

Jadi seorang yang mungkin dia faqīr tidak memiliki harta tetapi dia memiliki makanan pokok untuk hari tersebut lebih dari kebutuhannya pada hari tersebut saja, maka dia wajib untuk zakāt fitrlh (menzakāti dirinya sendiri).

وعمن تلزمه نفقته من المسلمين

“Dan orang-orang yang wajib dia nafkahi dari kalangan kaum muslimin.”

Jadi istrinya, anak-anaknya yang wajib dia nafkahi dan belum bisa bekerja (memiliki penghasilan sendiri) wajib dinafkahi.
Adapun anak-anak yang dia sudah bisa mendapatkan penghasilan sendiri maka tidak boleh dizakāti kecuali dengan izin anak tersebut. Dan apabila anak tersebut lain agama (misalnya) maka ini juga tidak wajib dizakāti.

Berapa kadarnya ?
صاعا من قوت بلده
“Kadarnya adalah satu sho’’ dari makanan pokok yang dimakan di negeri tersebut.”

Sho’ adalah ukuran takaran pada zaman Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Dan sho’ yang dimaksud di sini adalah sho’ yang digunakan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam.
Takaran sho’ sekitar 4 (empat) mud dan disebutkan di dalam Lajnah Daimah bahwa ukuran sho’ jika ditimbang kira-kira sekitar 3 Kg (untuk memudahkan dalam penakaran). Walaupun takaran atau ukuran aslinya adalah berupa takaran yaitu satu sho’.
Seorang mengeluarkan zakāt sesuai dengan makanan pokok yang dimakan (من قوت بلده), jadi kalau di Indonesia makanan pokoknya beras, maka yang dikeluarkan untuk zakāt fitroh adalah beras. Kalau di tempat lain yang makanan pokoknya gandum maka yang dikeluarkan untuk zakāt fitroh adalah gandum.
Apabila makanan pokoknya lebih dari satu maka boleh salah satunya tetapi lebih aula adalah sesuai dengan yang disebutkan di dalam hadīts, secara derajat kekuatannya maka diutamakan hithah (gandum) terlebih dahulu.

قدره خمسة أرطال وثلث بالعراقي

“Kadarnya adalah lima arthol dan sepertiganya.”

Arthol (أرطال), ‘iroqī (عراقي) biasa digunakan untuk menakar secara wazan (berat) oleh para fuqohā’.

Dan tadi sudah dijelaskan oleh para ulamā, kira-kira setiap jenis makanan pokok berbeda-beda dan disebutkan oleh Lajnah Daimah diperkirakan sekitar 3 Kg berlaku untuk semua.

Demikian yang bisa disampaikan halaqah ini dan kita akan lanjutkan pada pertemuan berikutnya.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Artikulli paraprakZAKAT FITRI
Artikulli tjetërZAKAT FITRI BAGIAN 04 & 8 ASNAF
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments